Cerita gadis polos dan rambut monyetnya

Seorang gadis menginjak masa remajanya merasa sangat kebingungan. Karena kurang pergaulan, dan merasa tidak ada tempat untuk bertanya, maka ia menanyakan hal tersebut pada Emaknya tentang rambut yang tumbuh di bagian kemaluannya.

Emakpun tersenyum sambil mencoba menenangkan anak perempuannya yang paling kecil  itu. “Gak apa-apa Neng, semua perempuan pasti gitu. Tempat numbuh rambut itu namanya MONYET. Lah kan monyet pasti punya bulu”.

Gadis pun merasa lega dan puas atas jawaban dari Ibunya.

Ketika waktunya makan malam, gadis kecil itu bercerita pada kakak perempuannya yang duduk di kelas 1 SMA. “Eh, kakak udah tau belum sekarang monyet adik udah punya rambut?!”.
Sang Kakak yang lagi asyik makan sambil nonton tv merasa terganggu, “Udah de’.., udah! Kakak kan lebih gede dari kamu!”

Mendengar pembicaraan kedua anak perempuannya tersebut, sang Ibu hanya tersenyum kecil.

Gadis kecil itupun membalas, “Yee si Kakak, meskipun Ade’ lebih kecil dari Kakak, tapi monyetku udah tumbuh rambut. Kakak belum tentu kan?!”
Spontan Kakaknya melotot ke arah adiknya itu, “Monyet kamu baru tumbuh rambut! Tapi monyet Kakak malahan udah makan pisang..!”


[si Ibu mendadak jantungan]

Kemesraan sepasang Pasutri saat malam pertama

Saat menjalani bulan madunya di sebuah tempat yang indah, sepasang pasutri pun melakukan belah duren pertamanya. Setelah mereka selesai melakukannya, terjadilah percakapan..,

Suami : “Mama, kamu benar-benar seksi & hebat. Papa sampe lemes banget ini Ma”
Istri : “Papa bisa aja, Papa juga hebat kok”
Suami : “He eh, tapi Papa akui. Goyangan Mama mantep banget, nggak ada duanya”
Istri : “Si Papa gombalannya bisa aja nih..” (sambil ngelus-ngelus anu suaminya)

Suami : “Mama masih aja megangin itu Papa, ngegemesin punya Papa kan. Atau Mama masih pengen ya?”
Istri : “Ahh., nggak kok Pa”
Suami : “Itu kok makin kenceng ngelus-ngelus itu Papa” (Sambil merem melek keenakan)

Istri : “Nggak Pa, Mama udah lemes. Ini Mama cuma kangen aja makanya ngelus punya Papa”
Suami : “Kangen..? Maksudnya?!”
Istri : “Dulu Mama pernah punya..”

Suami : “W*F….” (Langsung kejang-kejang trus pingsan)

Awas minggir, Saya Bapaknya!

Seorang wartawan yang kebetulan melintas tiba-tiba melihat sebuah kecelakaan. Spontan ia langsung menghentikan kendaraannya dan ingin menggali informasi mengenai kecelakaan tersebut.

Karena banyaknya orang yang berkerumun, ia kesulitan untuk melihat keadaan korban kecelakaan tersebut. Ia beranggapan, bahwa ini adalah kecelakaan yang parah dan sangat layak dijadikan sebuah berita. Setiap kali ia mencoba menerobos ke dalam kerumunan, ia justru kembali lagi keluar. Postur tubuhnya yang kecil dan kerempeng sangat tidak memungkinkan untuk melewati banyaknya orang yang berkerumun melihat si korban. Akhirnya, ia memiliki sebuah ide yang menurutnya sangat brilian..

“Woiii, semuanya minggir, minggir, minggir. SAYA AYAH SI KORBAN!! Kasih jalan, kasih jalan”, serunya. Akhirnya benar, semua orang yang berkerumun memberikan ia jalan. Ia berbangga hati dalam hati, ia menganggap bahwa idenya sangat efektif & berhasil.


Ketika sampai di ujung bagian dalam kerumunan, ia sontak kaget dan tak dapat berkata apa-apa ketika melihat seekor anak MONYET yang tewas dengan kondisi kepalanya yang hancur.

Lagi-lagi harus main belakang!

Di suatu malam saat hujan deras, seorang waria tidak menyangka bahwa ternyata dia harus kejar-kejaran sama Kamtib karena ada razia dadakan. Dia ngerasa sangat sedih karena temannya banyak yan tertangkap. Dan karena dia merasa sangat ketakutan, dia pun terus berlari ketakutan menghindari kejaran para Kamtib hingga akhirnya sebuah mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi menabraknya. Akhirnya.., waria itu tewas di tempat.

Kemudian, terjadilah percakapan antara dia dan malaikat,


Malaikat : “Nama kamu siapa?!?”
Waria : “Nama eyke Yulia Matalata Sukma Melati laksana sutera..”
Malaikat : “Jawab yang bener!!”
Waria : “Nama saya Sokron pak Malaikat…”
Malaikat : “Sadarkah kamu bahwa kamu banyak sekali melakukan perbuatan maksiat semasa di dunia! Hukumannya, pantant kamu akan di tusuk pakai besi yang panas membara!”
Waria : “Ya ampyunn.., najis dan eyke. Gak di bumi, nggak di akhirat, senengnya pada main belakang aja..!”

Gue mau dagang aja disini!

Ada 3 orang pria dengan karakter yang berbeda. Pria pertama si Wawan adalah orang yang sangat suka ikut pesta. Pria kedua adalah Rifki orang yang sangat taat sama kepercayaan. Dan pria ketiga, si Ableh orang yang memiliki jiwa bisnis yang sangat kental.

Singkat cerita, mereka baru saja pulang nongkrong dan mengalami kecelakaan hebat sehingga mereka semuanya tewas.

Dan tiba-tiba arwah mereka terbang ke atas.

Wawan : [teriak kegirangan] “Horee.. kita terbang cuy..”
Ableh : “Goblok, kita ini udah mati Wan!”
Rifky : [Jerit-jerit nggak karuan]
Ableh : [Sambil menahan tangis, ia pun mengelus-elus bahu si Rifky] “Sabar Ky, emang udah takdir kita ini sekarang mau gimana lagi”.

Kemudian, sampailah mereka di persimpangan yang di depannya surga dan neraka.


Wawan : “Eh liat tuh, ada plang penunjuk jalan!”
Ableh : “Eh, iya itu”
Rifky : [Masih merasa nggak percaya dan sangat sedih]
Ableh : “Lu abis dari sini pada mau kemana?”
Wawan : “Gue pengen ketemu sama orang yang demen party cuy. Pengen banget party gue!”
Rifky : “Gw mau memperdalam ilmu dan kepercayaan gw Bleh. Emang lu mau kemana Bleh??”
Ableh : “Gue mau disini aja ahh!”
Wawan : “Hahhhh..! Ngapain lu disini?!?”
Ableh : “Soalnya dipertigaan ini rame banget, gue mau dagang disini ahh..”

Hal yang tidak dapat dijelaskan

Ngocol aja - Seorang peternak yang merasa putus asa dan ingin bunuh diri sedang berfikir di pinggir jembatan. Saat sebelum peternak melakukan aksi bunuh diri, seorang polisi yang kebetulan lewat mencoba untuk membujuknya agar tidak melompat.

Polisi : “Hey, kenapa anda? Mari kita berbicara untuk menyelesaikan permasalahan anda”
Peternak : “Ada beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan”
Polisi : “Jadi, apakah sangat mengerikan sehingga anda harus bunuh diri?!?”
Peternak : “Tapi pag, aku duduk tepat di samping sapiku sambil memerah susunya. Ketika ember hampir penuh, kaki kirinya menendang ember tersebut”
Polisi : “Lah, itukan hal yang biasa..”
Peternak : “Ada yang tidak bisa di jelaskan”

Polisi : “Apa yang terjadi selanjutnya?”
Peternak : “Kemudian ku ikat kaki kiri sapiku dan aku duduk untuk kembali memerah susunya. Dan lagi-lagi, ketika ember hampir penuh sapi bodoh itu menendang embernya lagi”
Polisi : “Begitu lagi, sama seperti yang pertama. Itu adalah hal biasa…”
Peternak : “Ada yang tidak bisa dijelaskan”

Polisi : “Lalu apa yang anda lakukan??”
Peternak : “Lalu ke pegang kaki kanannya dan kuikatkan ke tiang. Aku duduk kembali dan memerah susunya. Tetapi ketika ember telah penuh, ekor sapi sialan itu menyenggol ember susu hingga tumpah lagi”
Polisi : “Oh begitu. Tidak jauh dari permasalah anda yang tadi”
Peternak : “Ada yang tidak bisa saya jelaskan”


Polisi : “Lalu, apa lagi..?!?”
Peternak : “Jujur, saya tidak punya tali lagi untuk mengikat sapi bego itu. Jadi saya lepas ikat pinggang saya, dan ku ikat ekornya ke atas plafon. Saat itu celana saya langsung melorot, dan istri tiba-tiba saya masuk…”

Pasien bodoh vs Dokter polos

Seorang pasien mengeluhkan sekaligus menanyakan tentang penyakitnya setiap kali ia minum teh,


Dokter : “Selamat malam, apa keluhan anda Pak?”
Pasien : “Gini Dok, kenapa ya , setiap kali saya minum teh, mata saya selalu merasa di tusuk-tusuk Dok?”
Dokter : “Hhmm, coba singkirkan sendoknya dulu sebelum anda minum..”
Pasien : “Ooh, gitu ya. Terima kasih ya Dok”.

Sersan dan Komandan si Penjinak Bom

Ngocol Aja - Seorang Sersan mencoba menjinakkan bom yang di pandu via radio oleh Komandannya.

“Kampret 1 ke Kampret 2, bagaimana kondisi disana?!? Ganti”
“Saya tepat berada di depan bom yang akan meledak Ndan, mohon instruksi. Ganti”
“Tolong bersihkan area disana dulu Sersan!”
“Siap Ndan!”
[Kemudian Sersan pun mensterilkan area disana untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan jika bom benar-benar meledak]

“Lapor Ndan, area sudah steril. Ganti”
“Siap, sekarang kita fokus ke bom. Berapa menit waktu yang tersisa Sersan??”
“Sekarang hitungan mundur pada durasi menunjukkan 00:04:13 Komandan. Ganti”
“Ok, berarti waktu kita tinggal 4 menit. Sekarang cepat buka tutup bom pake obeng!”
“Siap Komandan, sudah bisa dikuasai. Ada 4 kabel Komandan, mohon instruksi”
“Potong kabel warna hijau sekarang”
“Siap Komandan..!”
[Sersan pun segera memotong kabel berwarna hijau]

“Bagaimana Sersan sudah mati bomnya??”
“Belum Ndan, malahan durasi hitungan detik mundurnya jalan semakin cepat!! Ganti, mohon instruksi”
“Apa?!? Tadi kamu potong kabel warna apa?”
“Hijau Ndan!”
“Ah, masa?!? Apa nggak salah potong kamu?!?”
“Siap Ndan, Saya potong warna hijau tadi”
“Sekarang kabelnya warna apa aja yang tersisa??”
“Merah, hitam, sama hijau Ndan”
“Lho, kenapa yang hijau masih ada?!?”
“Siap Ndan, yang hijau emang ada 2 kabel. 1 Hijau Daun, yang satu lagu Hijau Langit Komandan”
“Goblog! Langit itu Biru, bukan Hijau!!”
“Siap salah Komandan, tapi di kampong saya namanya Hijau Ndan”
“Tolol, berarti yang kamu potong tadi Hijau Langit alias Biru?”
“Betul Ndan, siap dengan instruksi selanjutnya”
“Ah, kalau kabel biru yang kamu potong, itu akan mempercepat waktu mundurnya!”
[Kemudian Sersan panik]

“Kondisi darurat, bom meledak 13 detik lagi Ndan, siap mohon instruksi!”
“Ok, sekarang kamu ikuti kata-kata saya!!”
“Siap Ndan”
“Assyhadualla..”
“Assyhadualla..”
“Illa..”
Illa..”
“Ha illallah..”
“Ha illallah..”
“Wa asyhaduanna..”
“Wa asyhaduanna..”
“Muhammadarrosulullah…”

“Muhammadarrosulullah…”